ini hanyalah sekedar ungkapan perasaan saja atas fenomena yang terjadi. tulisan ini bukanlah sindiran ataupun celaan, tapi penulis hanya ingin mengekspresikan diri tanpa harus dibatasi apapun.
Fenomena ya
ng kini sedang terjadi di negeri kita tercinta, sebuah dilema yang tangah kita hadapi di tengah-tengah himpitan ekonomi dunia yang terus saja fluktuatif tak pasti. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim menjadi sorotan banyak orang, tak terkecuali masyarakat dunai, mulai dari kasus terorisme yang di kaqmbing hitamkan kepada muslim sampai kepada kasus kecil-kecilan yang ternyata tak kalah menariknya bagi masyarakat kita. Ulama sebagai panutan ummat kini sedang diuji kapabilitas dan kredibilitasnya karena kita tidaklah hidup di negera islam melainkan negara yang mayoritas penduduknya beragama islam namun masih menggunakan hukum-hukum perdata barat peninggalan kaum penjajah belanda.
masih teringat dibenak penulis, soal tindakan poligami yang dilakukan oleh Kyai Haji Abdullah Gymnastiar atau sering kita kenal dengan sebuatan akrab Aa Gym. Aa Gym kian lenyap popularitasnya di kalangan masyarakat kita. masih ingatkah kita, ketika Aa Gym mengadakan pengajian ataupun acara di Pondoknya, pastilah tak sedikit orang yang sekedar menegok sosok Aa Gym yang katanya dianggap berwibawa dan sedikit rupawan menurut para ibu-ibu Indonesia. Aa yang dianggap sebagai lelaki ideal, yang selalu menyerukan pesan dakwah dan moral, yang mengajarkan tentang kasih sayang dan damainya Islam sungguh bagai oase di tengah padang pasir yang menyejukkan hati bangsa ini. Tapi kepopuleran Aa lenyap hanya dalam hitungan detik saja. Aa Gym memilih untuk melaksanakan sunnah rasul, yaitu berpoligami, alias menikah lagi, tak ayal hal ini banyak menuai kontroversi bahkan persiden SBY sekalipun. tak hanya bapak-bapak atau mas-mas, ibu-ibu pun banyak mengomentari tindakan Aa, kata mereka seh, mereka engga setuju ddengan poligasmi, katanya menduakan istri, engga setia.
Belumlah puas telinga ini dipenuhi oleh kabar-kabar unik, yang mungkin membuat sebagian orang ingin tertawa termasuk penulis, hahahaha. Setia pemberitaan di televisi saat-saat ini menyoroti kasus Syekh Puji. sebenarnya penulis tak terlalu paham karena jarang menonton TV, yah maklum lah mahasiswa kost-kostan. tapi sedikit banyak penulis tahu bahwa Syeh Puji akan menikahi wanita, atau lebih tepat disebut anak-anak. bagaimana tidak wanita yang akan dinikahinya baru duduk di bangku sekolah umurnya pun baru 12 tahun, alamak, lagi-lagi ulama kita bikin heboh. Syekh Puji menganggap hal itu sah-sah saja, katanya dulu aisyah pun waktu menikah dengan nabi masih belia. Tapi ini bukan zaman nabi, bukan pula negara Islam, kita NKRI yang menggunakan hukum-hukum positif. memang secara agama syekh Puji tidak sepenuhnya salah tapi kalau dilihat dari hukum kita jelas itu bertentangan, karena dalam UU wanita boleh dinikahi batasan umurnya sekitar 16 Tahun-an. entah apa motif si Syekh Puji itu, tapi cobalah dipikirkan dengan matang dan saksama, jangan hanya mengedepankan nafsu syahwat belaka. kita adalah bangsa beradab dan bermartabat, apalagi muslim yang taat, sepatutnya masalah ini dibicarakan, duduk bersama asgar nanti masyarakt tak lagi dihebohkan dengan berita-berita yang hanya mengganggu konsentrasi pikiran di tengah fluktuasi ekonomi yang tak menentu. masih banyak orang miskin yang harus kita pikirkan. masih banyak anak-anak kelaparan dan putus sekolah yang belum kita sentuh.
