oneissimply

Ulama Indonesia, Senang Bikin Heboh

In Uncategorized on November 1, 2008 at 2:02 pm

ini hanyalah sekedar ungkapan perasaan saja atas fenomena yang terjadi. tulisan ini bukanlah sindiran ataupun celaan, tapi penulis hanya ingin mengekspresikan diri tanpa harus dibatasi apapun.

Fenomena ya1131ng kini sedang terjadi di negeri kita tercinta, sebuah dilema yang tangah kita hadapi di tengah-tengah himpitan ekonomi dunia yang terus saja fluktuatif tak pasti. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim menjadi sorotan banyak orang, tak terkecuali masyarakat dunai, mulai dari kasus terorisme yang di kaqmbing hitamkan kepada muslim sampai kepada kasus kecil-kecilan yang ternyata tak kalah menariknya bagi masyarakat kita. Ulama sebagai panutan ummat kini sedang diuji kapabilitas dan kredibilitasnya karena kita tidaklah hidup di negera islam melainkan negara yang mayoritas penduduknya beragama islam namun masih menggunakan hukum-hukum perdata barat peninggalan kaum penjajah belanda.

masih teringat dibenak penulis, soal tindakan poligami yang dilakukan oleh Kyai Haji Abdullah Gymnastiar atau sering kita kenal dengan sebuatan akrab Aa Gym. Aa Gym kian lenyap popularitasnya di kalangan masyarakat kita. masih ingatkah kita, ketika Aa Gym mengadakan pengajian ataupun acara di Pondoknya, pastilah tak sedikit orang yang sekedar menegok sosok Aa Gym yang katanya dianggap berwibawa dan sedikit rupawan menurut para ibu-ibu Indonesia. Aa yang dianggap sebagai lelaki ideal, yang selalu menyerukan pesan dakwah dan moral, yang mengajarkan tentang kasih sayang dan damainya Islam sungguh bagai oase di tengah padang pasir yang menyejukkan hati bangsa ini. Tapi kepopuleran Aa lenyap hanya dalam hitungan detik saja. Aa Gym memilih untuk melaksanakan sunnah rasul, yaitu berpoligami, alias menikah lagi, tak ayal hal ini banyak menuai kontroversi bahkan persiden SBY sekalipun. tak hanya bapak-bapak atau mas-mas, ibu-ibu pun banyak mengomentari tindakan Aa, kata mereka seh, mereka engga setuju ddengan poligasmi, katanya menduakan istri, engga setia.

Belumlah puas telinga ini dipenuhi oleh kabar-kabar unik, yang mungkin membuat sebagian orang ingin tertawa termasuk penulis, hahahaha. Setia pemberitaan di televisi saat-saat ini menyoroti kasus Syekh Puji. sebenarnya penulis tak terlalu paham karena jarang menonton TV, yah maklum lah mahasiswa kost-kostan. tapi sedikit banyak penulis tahu bahwa Syeh Puji akan menikahi wanita, atau lebih tepat disebut anak-anak. bagaimana tidak wanita yang akan dinikahinya baru duduk di bangku sekolah umurnya pun baru 12 tahun, alamak, lagi-lagi ulama kita bikin heboh. Syekh Puji menganggap hal itu sah-sah saja, katanya dulu aisyah pun waktu menikah dengan nabi masih belia. Tapi ini bukan zaman nabi, bukan pula negara Islam, kita NKRI yang menggunakan hukum-hukum positif. memang secara agama syekh Puji tidak sepenuhnya salah tapi kalau dilihat dari hukum kita jelas itu bertentangan, karena dalam UU wanita boleh dinikahi batasan umurnya sekitar 16 Tahun-an. entah apa motif si Syekh Puji itu, tapi cobalah dipikirkan dengan matang dan saksama, jangan hanya mengedepankan nafsu syahwat belaka. kita adalah bangsa beradab dan bermartabat, apalagi muslim yang taat, sepatutnya masalah ini dibicarakan, duduk bersama asgar nanti masyarakt tak lagi dihebohkan dengan berita-berita yang hanya mengganggu konsentrasi pikiran di tengah fluktuasi ekonomi yang tak menentu. masih banyak orang miskin yang harus kita pikirkan. masih banyak anak-anak kelaparan dan putus sekolah yang belum kita sentuh.

Tak Ada Lagi Kata-Kata

In Uncategorized on November 1, 2008 at 12:35 pm
good

ketika semua hanya diam

Ketika kita menghadapi segala macam cobaan, ujian atau bahkan ancaman sekalipun, apakah yang pertama kali terlintas dibenak kita? sebuah kata putus asakah, “Ya Tuhan aku tak sanggup lagi”, “Huh, ya ampun aku engga kuat”, itukah yang terlintas di hati kita? memang manusia adalah makhluk yang lemah, aku pun terkadang sering berkeluh kesam, melampiaskan semua kepenatan ke pada setiap orang yang kudapati seolah-olah aku ingin membaginya kepada mereka semua yah, walau dengan dipaksakan. kita bukanlah Tuhan apalagi nabi, tapi nabi saja pernah berkeluh kepada Tuhannya apalagi kita sebagai orang biasa yang tak lebih terhormat dari seonggok daging hidup. apalah arti semua ini, apalah arti hidup ini, kadang kita belum begitu faham. hingga diri kita dilupakan atau bahkan dijerumuskan atau mungkin terjerumus oleh laku kita sendiri. aku pun demikian, tak jauh lebih baik dari kalian. aku merasa bahwa apalah hidup ini. hanya sekedar kesaksianku kepada Tuhan, hanya menjalani apa yang dfigariskan-Nya.

Tapi ternyata hidup tidaklah sesederhana itu. tak hanya sekedar makan, minum, tidur, belajar, buanga air, bekerja, ibadah, atau bahkan melamun sia-sia. lebih dari itu aku menemukan makna hidup, mungkin belum sampai kepada pemaknaan yang sejati tapi aku berusaha menuju makna yang dalam itu. aku mjerasa bahwa hidup ini tidaklah hanya sekedar menuntaskan kewajiban kita kepada Tuhan, tapi lebih dari itu aku merasa bahwa takdirku ditentukan oleh diriku ini sendiri. artinya kitalah yang menentukan nasib kita sementara Tuhan bekerja sesuai kuasanya. tak cukup hanya dengan limpahan harta, tidak hanya sekedar nama atau pangkat jabatan, tapi sebuah kata pun begitu bermakna dalam hidup ini terutama yang ku rasakan pada hidupku. kata bagiku adalah ungkapan sihir yang abstrak, kadang menjatuhkan kadang pula menyemangati. kata bagiku adalah sebuah eksistemsi manusia itu sendiri, karena kita mampu merubah dunia hanya dengan sebuah kata saja. namun sayang, ketika diri kita jenuh, penat, atau bahkan bosan dengans segala kata-kata yang licik, busuk atau apalah sebutannya, maka hidup ini tak lebih baik dari anjing yang jelek sekalipun. saat diri ini dikecewakan dengan kata maka tak ada lagi kata yang mau diucapkan, jangankan diucap, dipikir pun enggan sepertinya.

UNESCO

In pendidikan on September 7, 2008 at 5:32 am